2/18/2013

KINAN (Part 1)

Untuk Mona, gadis yang saat ini sedang duduk di hadapannya harus diselidiki. Sesaat Mona sadar, dia tidak punya hak ikut campur dalam masalah orang lain apalagi orang yang baru dilihatnya selama seminggu. Tapi dari sorot mata gadis itu, Mona merasa ada sesuatu yang menyebabkan gadis itu hidup dalam diam. Diam. Dia tidak pernah bicara kecuali ditanyai guru atau ditanyakan hal-hal penting. Untuk hal yang bisa dia jawab, dia hanya mengangguk atau menggeleng. Tak jarang bahkan dia mengalihkan tatapan atau berlalu begitu saja ketika merasa pertanyaan yang diarahkan padanya tidak layak mendapat jawaban. Kalau saja dia tidak memperkenalkan diri ketika pertama kali memasuki ruangan ini, mungkin seisi kelas akan menganggap dia bisu.
---
                Seminggu yang lalu, tepatnya pada hari Kamis, kelas kami kedatangan penghuni baru. Kinan. Pindahan dari Los Angeles, California. Mengejutkan memang. Mengetahui dia pernah tinggal di salah satu tempat yang paling diidam-idamkan kebanyakan anak muda membuat Kinan menjadi pusat perhatian massa. Tapi dari penampilannya, Kinan tidak terlihat seperti orang yang baru datang dari Los Angeles. Rambutnya hitam tebal sebahu, kulitnya pun tidak putih atau tan, warna matanya hitam legam, dan tingginya sejajar dengan rata-rata siswa perempuan di sekolah kami. Penampilan fisiknya seperti gadis-gadis keturunan Jawa asli lainnya. Hal itu menjadi pertanyaan besar apa Kinan benar-benar datang dari Los Angeles.
                Selama seminggu Mona duduk di belakang gadis itu dan selama seminggu pula Mona penasaran akan siapa sebenarnya gadis itu. Dia tidak pernah tersenyum. Di balik kacamata tebalnya, dia terlihat muram. Kadang Mona berniat menghibur gadis itu dengan mencoba menjadi temannya, tapi selalu diurungkannya mengetahui pertanyaan Mona akan berakhir seperti kebanyakan teman-teman di kelasnya.
                Didasari rasa penasarannya, dua hari terakhir ini Mona mulai melancarkan aksi detektifnya. Hari pertama dilaluinya dengan mencari identitas Kinan di internet. Lebih dari enam jam Mona berkutat di depan laptopnya dan semuanya nihil. Susah payah Mona mengetikkan nama Kinanti Telfer di semua jejaring sosial  yang dia tahu bahkan di Google sekalipun. Tapi tidak ada hasil yang dia harapkan.
                Hari kedua, Mona tidak lagi berdiam di rumah. Dia harus terjun langsung. Sepulang sekolah, Mona bergegas mengikuti Kinan dan berusaha tidak diketahui. Dari situlah Mona sadar, selama seminggu Kinan bersekolah di sini, ternyata Kinan selalu diantar jemput dengan sebuah mobil mewah. Ketika Kinan memasuki mobil, Mona memacu sepedanya di bawah terik matahari siang itu sambil berusaha tidak terdeteksi oleh mobil Kinan. Tapi mobil itu melaju dengan sangat kencang. Sekitar dua kilometer dari sekolah, Mona sudah kehilangan jejak mobil itu. Sekali lagi, upaya penyelidikan Mona terhadap Kinan, gagal total.
                Tapi, mempelajari kegagalan-kegagalannya sebelumnya, kali ini Mona lebih siap. Dia meminta bantuan Rey, tetangga sekaligus kakak kelas satu tingkat di atasnya, untuk membantu misinya dengan menggunakan motor ninja milik Rey. Sebenarnya Mona bisa saja membawa motor sendiri dari rumah. Tapi Mona sadar dia akan ngebut-ngebutan di jalanan dan dia juga belum punya SIM. Akhirnya Rey menjadi tujuan terakhir Mona.
                Lima menit sebelum kelas berakhir, Mona sudah memberitahu Rey agar segera bersiap dengan motornya di parkiran yang dibalas dengan satu kata oleh Rey: siap.
                Sejak kecil, Mona dan Rey sudah saling kenal. Mereka tumbuh dan tidak jarang menghabiskan waktu bersama. Meski, ketika Rey memasuki SMP lima tahun yang lalu mereka jadi jarang bermain bersama, mereka masih tetap in touch lewat Blackberry Messenger atau Twitter. Mereka juga memiliki obsesi yang sama, yaitu menjadi seorang detektif. Semuanya bermula ketika Rey menceritakan sebuah kisah detektif dari Detektif Conan yang sukses membuat Mona terpana. Meski telah lama berlalu, rasa gemar mereka terhadap permainan mereka semasa kecil itu masih tertata apik dalam sanubari mereka. Itulah yang membuat Rey langsung setuju ketika Mona mengajaknya untuk mencari tahu identitas Kinan setelah Mona bercerita panjang lebar betapa misteriusnya Kinan itu.
                Bel berdering memekakan telinga. Mona segera menarik tasnya dan berlari kecil menuju parkiran tempat Rey menunggu. Di sana, dilihatnya Rey sudah siap dengan helm dan jaket kulit berwarna hitam dengan garis merah di lengan kiri. Mona menepuk pundak Rey dengan tersenyum sekilas menandakan dia sudah siap. Rey menyodorkan jaket kulit yang sama dengannya tapi dengan ukuran yang pas untuk Mona, juga sebuah helm berwarna putih. Mona melompat ke kursi belakang di motor Rey dan mengarahkan mata Rey kepada mobil hitam sport mewah yang setiap hari menjemput Kinan. Seperti yang telah dikatakan Mona pada Rey ketika mereka sedang berdiskusi mengenai mobil itu, Rey memang terpesona. Hal ini menunjukkan Kinan bukan dari keluarga sembarangan. Khayalan liar Mona mulai aktif. Mona mulai membayangkan ayah Kinan adalah seorang mafia atau semacamnya. Tapi pikiran itu ditepisnya jauh-jauh.
                Melihat mobil itu mulai berjalan meninggalkan lapangan parkir sekolah, Mona menepuk bahu Rey dua kali.
                “Jalan, Rey!”

...to be continued...

---

Ini cerita bersambung pertama yang saya tulis dan post di blog.
Feel free to comment for critics and suggests. You are all welcome. AND, tell me if you like to read more about this story to cheer me up every time I write hehehe. We are friends, so plagiarism? Uh oh big no no.
Thank you :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments