Untuk Mona, gadis yang saat ini sedang duduk di hadapannya
harus diselidiki. Sesaat Mona sadar, dia tidak punya hak ikut campur dalam
masalah orang lain apalagi orang yang baru dilihatnya selama seminggu. Tapi dari
sorot mata gadis itu, Mona merasa ada sesuatu yang menyebabkan gadis itu hidup
dalam diam. Diam. Dia tidak pernah bicara kecuali ditanyai guru atau ditanyakan
hal-hal penting. Untuk hal yang bisa dia jawab, dia hanya mengangguk atau
menggeleng. Tak jarang bahkan dia mengalihkan tatapan atau berlalu begitu saja
ketika merasa pertanyaan yang diarahkan padanya tidak layak mendapat jawaban. Kalau
saja dia tidak memperkenalkan diri ketika pertama kali memasuki ruangan ini,
mungkin seisi kelas akan menganggap dia bisu.
---
Seminggu
yang lalu, tepatnya pada hari Kamis, kelas kami kedatangan penghuni baru.
Kinan. Pindahan dari Los Angeles, California. Mengejutkan memang. Mengetahui dia
pernah tinggal di salah satu tempat yang paling diidam-idamkan kebanyakan anak
muda membuat Kinan menjadi pusat perhatian massa. Tapi dari penampilannya,
Kinan tidak terlihat seperti orang yang baru datang dari Los Angeles. Rambutnya
hitam tebal sebahu, kulitnya pun tidak putih atau tan, warna matanya hitam legam, dan tingginya sejajar dengan
rata-rata siswa perempuan di sekolah kami. Penampilan fisiknya seperti
gadis-gadis keturunan Jawa asli lainnya. Hal itu menjadi pertanyaan besar apa
Kinan benar-benar datang dari Los Angeles.
Selama seminggu
Mona duduk di belakang gadis itu dan selama seminggu pula Mona penasaran akan
siapa sebenarnya gadis itu. Dia tidak pernah tersenyum. Di balik kacamata
tebalnya, dia terlihat muram. Kadang Mona berniat menghibur gadis itu dengan
mencoba menjadi temannya, tapi selalu diurungkannya mengetahui pertanyaan Mona
akan berakhir seperti kebanyakan teman-teman di kelasnya.
Didasari
rasa penasarannya, dua hari terakhir ini Mona mulai melancarkan aksi
detektifnya. Hari pertama dilaluinya dengan mencari identitas Kinan di
internet. Lebih dari enam jam Mona berkutat di depan laptopnya dan semuanya
nihil. Susah payah Mona mengetikkan nama Kinanti Telfer di semua jejaring
sosial yang dia tahu bahkan di Google
sekalipun. Tapi tidak ada hasil yang dia harapkan.
Hari kedua,
Mona tidak lagi berdiam di rumah. Dia harus terjun langsung. Sepulang sekolah,
Mona bergegas mengikuti Kinan dan berusaha tidak diketahui. Dari situlah Mona
sadar, selama seminggu Kinan bersekolah di sini, ternyata Kinan selalu diantar
jemput dengan sebuah mobil mewah. Ketika Kinan memasuki mobil, Mona memacu
sepedanya di bawah terik matahari siang itu sambil berusaha tidak terdeteksi
oleh mobil Kinan. Tapi mobil itu melaju dengan sangat kencang. Sekitar dua
kilometer dari sekolah, Mona sudah kehilangan jejak mobil itu. Sekali lagi,
upaya penyelidikan Mona terhadap Kinan, gagal total.
Tapi,
mempelajari kegagalan-kegagalannya sebelumnya, kali ini Mona lebih siap. Dia meminta
bantuan Rey, tetangga sekaligus kakak kelas satu tingkat di atasnya, untuk
membantu misinya dengan menggunakan motor ninja milik Rey. Sebenarnya Mona bisa
saja membawa motor sendiri dari rumah. Tapi Mona sadar dia akan ngebut-ngebutan
di jalanan dan dia juga belum punya SIM. Akhirnya Rey menjadi tujuan terakhir
Mona.
Lima menit
sebelum kelas berakhir, Mona sudah memberitahu Rey agar segera bersiap dengan
motornya di parkiran yang dibalas dengan satu kata oleh Rey: siap.
Sejak kecil,
Mona dan Rey sudah saling kenal. Mereka tumbuh dan tidak jarang menghabiskan
waktu bersama. Meski, ketika Rey memasuki SMP lima tahun yang lalu mereka jadi
jarang bermain bersama, mereka masih tetap in
touch lewat Blackberry Messenger atau Twitter. Mereka juga memiliki obsesi
yang sama, yaitu menjadi seorang detektif. Semuanya bermula ketika Rey
menceritakan sebuah kisah detektif dari Detektif Conan yang sukses membuat Mona
terpana. Meski telah lama berlalu, rasa gemar mereka terhadap permainan mereka
semasa kecil itu masih tertata apik dalam sanubari mereka. Itulah yang membuat
Rey langsung setuju ketika Mona mengajaknya untuk mencari tahu identitas Kinan
setelah Mona bercerita panjang lebar betapa misteriusnya Kinan itu.
Bel berdering
memekakan telinga. Mona segera menarik tasnya dan berlari kecil menuju parkiran
tempat Rey menunggu. Di sana, dilihatnya Rey sudah siap dengan helm dan jaket
kulit berwarna hitam dengan garis merah di lengan kiri. Mona menepuk pundak Rey
dengan tersenyum sekilas menandakan dia sudah siap. Rey menyodorkan jaket kulit
yang sama dengannya tapi dengan ukuran yang pas untuk Mona, juga sebuah helm
berwarna putih. Mona melompat ke kursi belakang di motor Rey dan mengarahkan
mata Rey kepada mobil hitam sport mewah yang setiap hari menjemput Kinan. Seperti
yang telah dikatakan Mona pada Rey ketika mereka sedang berdiskusi mengenai
mobil itu, Rey memang terpesona. Hal ini menunjukkan Kinan bukan dari keluarga
sembarangan. Khayalan liar Mona mulai aktif. Mona mulai membayangkan ayah Kinan
adalah seorang mafia atau semacamnya. Tapi pikiran itu ditepisnya jauh-jauh.
Melihat
mobil itu mulai berjalan meninggalkan lapangan parkir sekolah, Mona menepuk
bahu Rey dua kali.
“Jalan,
Rey!”
...to be continued...
---
Ini cerita bersambung pertama yang saya tulis dan post di blog.
Feel free to comment for critics and suggests. You are all welcome. AND, tell me if you like to read more about this story to cheer me up every time I write hehehe. We are friends, so plagiarism? Uh oh big no no.
Thank you :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Comments