6/16/2012

Que Sera Sera

Privyet!

Buat yang belum tau, Privyet itu bahasa Rusia-nya Hallo. Nggak tau kenapa nih dari kemarin, sejak gue baca novel Eclair (Prisca Primasari) yang setting lokasinya kebanyakan di Rusia, gue jadi pengen banget ke Rusia. Tokoh-tokoh dalam novel itu juga menginspirasi gue banget. Tokoh Katya menginspirasi gue buat pantang menyerah dan selalu optimis dengan apa yang akan kita lakukan, selama yang akan kita lakukan itu tujuannya baik. Tokoh Sergei (favorit gue) bikin gue jadi bahagia dan semakin sadar bahwa orang-orang yang deket sama kita tuh pasti akan berjuang buat melindungi kita. Tokoh Stepanych mendorong gue buat selalu ceria dan mengusahakan agar setiap orang yang ada di dekat gue jadi nyaman. Pokoknya itu novel bagus. Recommended banget buat yang belom baca.

Ngomong-ngomong, 2 hari yang lalu sekolah gue udah mengadakan penerimaan laporan hasil belajar siswa. Gue sendiri rapornya diambil sama nyokap.

Dari awal gue udah bilang, gue Que sera sera whatever will be, will be. Tapi emang kenyataannya nggak semudah itu, bro. Tiap kali gue lihat orang tua temen gue keluar dengan membawa rapor anaknya, gue selalu bertanya-tanya dengan cemas, apa nilai gue berada jauh di bawah nilai dia?

Sampai akhirnya tibalah giliran nyokap gue. Pas nyokap duduk, gue dipanggil buat duduk bareng nyokap di hadapan wali kelas. Dan sayup-sayup terdengar lagu Dag Dig Dug-nya Blink. Eh? Okay, abaikan.

Pas gue duduk, wali kelas gue dengan santainya bilang: "Yuri masuk peringkat sebelas." Kemudian ada hening satu dekade...

Gue nanya untuk memperjelas: "Sebelas, bu?"

Ibu Sero, wali kelas yang juga adalah guru Geografi gue, menganggukan kepala dengan yakinnya. Dan saat itu gue sadar, dia nggak main-main. Gue bener-bener dapet ranking sebelas. Oh maaan. Damn it! Gue 100% yakin nyokap gue bakal langsung nguliahin gue selama 7x24 jam kalo aja dia nggak inget saat itu kita masih berada di dalam ruang kelas dan sedang duduk di depan wali kelas gue. Setelah ngomong-ngomong dikit, basa-basi, bla-bla-bla, cap cip cup belalang kuncup, cipika cipiki cipiku sama wali kelas gue akhirnya nyokap pamit pulang. Gue tinggal di sekolah, rencananya mau pulang sama temen-temen yang lain.

Sakit hati pasti ada. Ini pertama kalinya gue keluar 10 besar sepanjang sejarah gue nerima rapor. Tapi gue sadar, persaingan ketat banget dan anak-anak di kelas gue otaknya nggak pada dangkal-dangkal. Banyak yang di atas gue. Tapi... satu hal yang bikin gue galau segalau-galaunya orang galau.

NILAI BAHASA INGGRIS DI RAPOR GUE CUMA 80!

Bukannya apa-apa, tapi ini juga pertama kalinya nilai bahasa Inggris gue segini rendahnya di rapor semester. Gue rasa nggak sebanding aja dengan apa yang udah gue usahain selama semester terakhir ini. Seinget gue, nilai ulangan, tugas, brainstorming, dll itu punya gue masih bisa dibilang bagus-bagus. Tapi kok di rapor kayak begini sih? Okay. Nilai semester gue emang cuma 69. Tapi kalo ditambah-tambahin sama nilai yang lain dan dibagi, gue nggak yakin hasilnya cuma 80. Gue nggak yakin...

Gue sempet cerita ke beberapa temen dan gue seneng waktu ada satu temen, namanya Aini, dia ngomong: nilai tuh nggak berarti lagi, tapi apa yang lo punya dan lo praktekan, itu yang harus lo hargai. Nilai di rapor bisa aja banyak yang lebih tinggi dari lo buat bahasa Inggris. Tapi, apa iya ability mereka kayak lo? Take it easy-lah, Yur. Price is nothing.

Dan ya, saat itu gue sadar. Nggak ada gunanya nangisin dan nyeselin apa yang udah terjadi. Yang bener tuh kita hargai dan jadikan itu pelajaran. Pelajaran buat melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi, dan optimis bahwa gue selalu bisa. Gue nggak pernah gagal. Kayak Ekaterina 'Katya' Fyodorovna di novel fiksi Eclair :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments