Kalo cerpen ini, terinspirasi dari love story temen gue, yessy.
Judulnya: LOVELESS YESTERDAY, PAINLESS TODAY (kata temen2 emg agak ribet judulnya)
Cekidot:
Mataku masih memandang layar monitor telepon genggamku dengan takjub. Bulan ini. Bulan November. Ada banyak kenangan yang seakan terulang bulan ini. Seperti déjà vu. Aku tentu bisa membedakannya. Bulan November tahun lalu, aku menemukan sahabat-sahabat terbaikku. Bulan November tahun lalu, aku kembali dekat dengan teman SD ku, Chris. Bulan November tahun lalu, aku resmi jadi pacar teman SD ku sekaligus cinta monyet pertamaku, Chris. Dan bulan November tahun ini? Bulan disaat aku akan segera menyambut anniversary pertama dari persahabatanku dengan teman-teman terbaikku. Bulan disaat seorang teman SD ku yang lain kembali dekat denganku setelah sekian lama hilang kontak. Bulan disaat… aku harus mengingat kejadian lima bulan yang lalu…
***
“Gue nggak yakin kalo gue bisa pertahanin hubungan gue sama Chris kali ini. Gue nggak bisa.” kataku menyerah.
“Deb, masa lo kalah sama jarak sih? Lo coba dong SMS dia. Atau telfon dia. Kali aja dia lagi sibuk trus lagi nggak sempat ngontak lo.” Felice berusaha memberikan solusi terbaik untukku.
“Makanya itu, Fel. Gue takut dia lagi sibuk, trus pas gue SMS malah ganggu dia. Lo tahu dong gimana gedenya perannya dia disekolahnya. Apalagi ekskulnya. Lesnya. Kegiatan-kegiatan remeh lain yang dilakuin cowok idola kayak dia. Secara gitu. Chris! Cowok paling keren se-SMP Budi Pekerti.”
“Ya udah kalo emang gitu keputusan lo. Gue nggak bisa ngomong lagi, Deb. Gue cuma berharap hubungan lo sama Chris nggak berakhir sampe disini. Gue masih pengen liat kalian bareng-bareng. Dan gue nggak mau dengar kata PUTUS dari mulut lo. Inget itu, Debora.” kata Felice kepadaku sebelum akhirnya dia meninggalkan kantin.
Itu pembicaraanku dengan Felice lima setengah bulan yang lalu. Sebelum akhirnya…
Hello, dear Debora. Long time no talk. I really miss u.
Actually, I have somethin’ to tell to u. It’s gonna be hard for me. And maybe for u.
But, I think, this is the best for us.
I think, we need to have some break. Long-distance relationship is really hard for me.
I do love you, but I won’t you be hurt. Once, this is the best for both of us.
We’re still friends, rait? Best friends.
I’ll really need your reply. Reply as soon as u can. J
Chris.
Itu pesan dari Chris yang dia kirim melalui message di Facebook-ku. Padahal, tepat saat itu, aku juga sedang menyusun kata-kata untuk mengakhiri hubungan kami. Tapi, apa boleh buat? Chris menduluiku. Sebenarnya dari awal message itu, aku sudah bisa menduga. Dan tebakanku tepat. Disaat itu pula, aku menyadari, air mataku turun membasahi pipiku. Mendapati aku yang masih belum bisa merelakan perpisahan ini.
Keesokan harinya setelah keputusan Chris, disekolah…
“What the hell! Gila banget tuh cowok. Jangan mentang-mentang dia beken trus bisa seenaknya mutusin lo ya, Deb. Gue nggak terima. As your best friend, gue nggak terima.” Felice yang mengidap ‘darah tinggi dadakan’ langsung meledak ketika mendengar ceritaku bahwa Chris memutuskanku.
“Udah dong, Fel. Gue juga udah nggak tahan sama hubungan gue sama dia. Gue udah cukup kesiksa, Fel.” jawabku pasrah.
“Nggak bisa gitu juga kali, Deb. Lo udah sabar sama hubungan lo ini, eh dia malah mutusin lo secara online gitu. Mana jantannya Chris itu? Mana? Basi tau nggak dia! Nyesel deh gue setuju sama hubungan lo berdua.” Lena juga menambahi ketidaksetujuan Felice.
“Iya, Deb. Dia nggak bisa seenaknya gitu. Rasanya pengen gue labrak aja dia.” Bian juga saat itu tidak bisa menahan amarahnya.
“Felice, Bian, Lena, please yah. Gue paling nggak mau sama yang kayak gini. Kalian itu sahabat gue. Udah seharusnya kalian ngertiin gue. Tapi apa? Lo semua malah bikin keadaan tambah runyam. Lo semua malah ngamuk-ngamuk nggak jelas gini. Ini juga bukan sepenuhnya salah Chris, girls. Gue juga salah. Kenapa gue nggak ngontak dia dari lalu-lalu, coba? Udah deh. Stop blaming Chris. Kalo kalian mau main salah-salahan, oke. Salahin aja gue yang udah ada didepan mata lo. Gampang, kan?” aku terpancing emosi karena ketiga sahabatku yang tidak pernah berhenti mengomel.
“Ya udah lah, Deb. It’s okay kalo emang lo bisa terima semua ini. Tapi lo inget satu hal. Gue, Bian sama Felice ada disini kapanpun lo butuh. Kita semua siap dengerin curhatan lo tentang siapapun, tentang apapun itu. Lo denger, Deb?” kata Lena akhirnya.
“Iya, Len. Thanks udah ngertiin gue.” kataku sambil kemudian memeluk Lena.
“Kita nggak dipeluk nih, Deb?” tanya Bian sirik.
“Ayok deh!” kataku sambil kemudian memeluk ketiga sahabat terbaikku. Mereka selalu bawel, tapi selalu ada buat aku. Kapanpun dan apapun itu.
“Eits,” Felice kemudian melepaskan pelukannya. “Inget ya. Marah gue ke Chris belum ilang. Gue tetep marah sama dia. Kalopun gue ketemu dia, gue nggak bakal ngomong bahkan ngelirik sekalipun. Denger itu, Deb.” kata Felice mengancam.
“Terserah lo lah, Fel.” kataku kemudian menyunggingkan senyum kepada ketiga temanku.
Saat itu, aku sedih. Aku sakit hati karena harus berpisah dengan cinta pertamaku. Tapi saat itu juga, aku menyadari arti cinta yang diberikan Chris. Chris udah memberikan banyak hal buat aku. Chris udah mengajarkan banyak hal baru yang aku belum tahu. Chris mengukir senyum dihati dan wajahku, tapi Chris juga menorehkan kepedihan untukku. Setidaknya, itu yang aku dapatkan selama bersama Chris. Pengalaman yang indah, yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Masa-masa pacaran pertamaku. Bersama Chris.
***
Mengingat kejadian beberapa bulan lalu, membuat aku senyam-senyum sendiri. Aku bahkan masih ingat bagaimana wajah marah teman-temanku ketika mendengar Chris memutuskanku. Tapi aku juga masih ingat, bagaimana perasaanku ketika mengakhiri hubungan dengan Chris yang bahkan tidak berjalan selama setahun.
Tepat hari ini, anniversary hubungaku dengan Chris. Apa mungkin Chris juga sedang mengingat-ingat memori masa-masa indah kami? Sepertinya mustahil bagi Chris. Saat ini, ketika Gracia menggantikan posisiku sehari hari setelah hubunganku dengan Chris berakhir.
***
Aku ingat saat itu sedang hujan. Sore hari yang seharusnya diterangi mentari sore yang bersinar cerah malah diganti derasnya hujan, kilatan petir, dan deruan guntur. Aku dan Bian sedang dalam perjalanan pulang kerumah dari rumah Lena. Sambil menunggu taksi, kami mencari tempat berteduh paling aman. Akhirnya kami mendapatkan tempat disebelah sebuah restoran cepat saji. Selang beberapa menit menunggu taksi kosong, beberapa orang yang seumuran aku dan Lena masuk kerestoran cepat saji tersebut. Aku bisa menangkap salah satu wajah dari beberapa anak itu. Itu Chris!
Chris dan teman-temannya masuk kedalam restoran cepat saji itu. Pemandangan lain yang pastinya akan menarik perhatian semua orang yang menyaksikannya adalah, Chris menggandeng tangan seorang gadis. Aku tahu siapa gadis itu. Meskipun aku tidak kenal dengannya, aku cukup tahu beberapa teman-teman sekelas Chris dan beberapa yang dekat dengan Chris atau beberapa gadis yang menyukai Chris. Itu Gracia!
Aliran darah dalam pembuluh darahku seakan terhenti. Terhenti untuk sesaat sebelum akhirnya Chris dan Gracia masuk kedalam restoran cepat saji itu. Aku tidak bisa bertumpu pada kedua kakiku lagi. Tubuhku oleng. Aku mencari seseorang untuk menahan diriku, yang akhirnya aku mendapatkan tangan Bian dan segera menggenggam tangan Bian. Ternyata Bian melihat hal itu juga. Mata Bian langsung terarah padaku. Segera setelah itu, Bian memanggilkan taksi.
Sungguh. Saat itu bisa-bisanya aku berpikir positif tentang Chris. Menduga tidak ada apa-apa diantara Chris dan Gracia setelah banyak pembuktian dari Felice, Lena, dan Bian bahwa mereka memang pacaran. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat sore itu, sebelum aku mendapatkan faktanya dari Chris sendiri.
Malamnya, setelah aku melihat Gracia dan Chris, dengan berani aku mengirim SMS kepada Chris yang dibalasnya semenit kemudian.
Hmm… Ia, Deb. Gue sama Chia sekarang.
Sorry yah telat ngasih tau. Pasti lo penasaran bgt ya?
Tapi swear, gue lupa Deb. Tp tenang aja deh.
Gue psti bkal ngasih tau lo selanjutnya ttg hubungan gue sama Chia.
Gue harap pnjelasan gue ini memberikan jwbn buat prtanyaan lo tdi.
Oke? Once, sorry yah lupa ngasih tau. J
Entah sengaja atau tidak, tapi kelihatannya Chris sengaja memamer-mamerkan hubungannya dengan Gracia. Sesuatu seperti menyobek hatiku. Aku langsung menonaktifkan telepon genggamku kemudian menyembunyikannya dibawah bantal. Saat itulah aku berjanji pada diriku sendiri untuk melupakan perasaan sayang yang masih tertanam dihati ini untuk Chris.
Aku yang sudah mulai menerima ini semua ternyata berbanding terbalik dengan sahabat-sahabatku. Mereka malah semakin meledak. Lebih meledak dari ketika mereka mendengar Chris memutuskanku.
***
Kemudian aku menyesali karena harus mengingat kejadian itu lagi. Bagian dari hubunganku yang paling ingin aku hapuskan adalah itu. Disaat Chris kemudian jadian dengan Gracia. Mendengar hal itu memang mungkin wajar. Tapi, apakah wajar ketika Chris dan Gracia resmi pacaran sehari setelah Chris memutuskanku? Dan yang lebih tidak masuk akalnya lagi, kenapa secepat itu? Menurut penelaan sahabat-sahabatku, Chris dang Gracia mungkin memang sudah saling lirik dari sebelum aku dan Chris putus. Dan sikap diam Chris dengan cara tidak mengirimiku kabar, adalah salah satu trik Chris untuk memudahkan jalannya untuk putus dariku. Perlahan, aku mulai percaya dengan penelaan singkat dari sahabat-sahabatku. Percaya.
Hush! Udah dong, Deb. Nggak usah nginget-nginget hal itu lagi. Nggak bagus lo bersedih gini disaat ada seseorang yang sebenarnya bisa bikin lo tersenyum bahagia, kataku membatin yang kemudian disusul oleh getar SMS masuk di telepon genggamku.
Hey, dear Debbie! Sorry late to rep.
Still awake? Hv u takes a dinner? :*
Jason. Dia. Dia teman SD-ku dulu. Dia yang sekarang mengisi hari-hariku belakangan ini. Ketika aku menjalin kontak kembali dengannya di Facebook, Jason meminta nomorku. Aku dan dia jadi sering SMS-an atau telponan. Dan bahkan Jason sendiri yang bilang ingin mengenalku lebih jauh daripada yang dia tahu di SD. Dia menyebutnya, “PDKT”. Hmm… Terlalu kuno bagiku. Tapi tidak. Ia membuat kata itu indah dan berarti. Tiba-tiba saja aku mendapati diriku yang mulai menyukai Jason.
Dengan segera aku membalas SMS Jason dengan wajah sumringah. Aku menatap jam di dinding. Pukul 11:24. Sedikit lagi hari ini berakhir. Begitupun dengan kisahku dengan Chris. Itu semua sudah berakhir. Berakhir sejak lama. Aku sebenarnya masih menjalin hubungan baik dengan Chris. Namun tidak sedekat dulu. Rasa deg-degan ketika mendapat SMS masuk darinya tidak seperti dulu lagi. Chris hanya temanku sekarang. Bukan siapa-siapa lagi. Ya, mungkin mantan pacarku. Mantan pacar yang akan sangat membekas. Tidak akan pernah kulupakan.
Dzzt… Dzzt… Getaran telepon genggamku menandakan ada SMS yang masuk. Aku mengira itu Jason. Ternyata bukan. Itu dari Lena. Aku kembali menatap jam dinding yang berada diatas wardrobe krem ku. 11:26. Ada apa Lena tengah malam begini SMS?
Deb, lo nggak bakal percaya apa yg Chris blg ke gue.
Emergency bgt, Deb. Gue mohon bls scepat yg lo bisa. J
Emergency? Segera aku menekan tombol REPLY, kemudian bertanya ‘kenapa emangnya’?
Getaran berikutnya muncul dari telepon genggamku. Dari Lena!, tebakku dalam hati. Bukan. Itu dari Jason. Dengan senang hati aku membalas SMS dari Jason. Sekitar tiga SMS dari Jason baru kemudian SMS dari Lena masuk.
Serentetan kata-kata terpampang dilayar monitor telepon genggamku. Menandakan penjelasan panjang dari Lena. Peganganku mengendur. Sungguh gila! Aku tidak percaya ini. Chris? Oh! Chris bertanya pada Lena, apa mungkin aku akan menerima cintanya lagi jika Chris mencoba untuk menyatakan cintanya sekali lagi. Gila! Nggak mungkinlah! Begitu mudahnya Chris bertanya seperti itu setelah luka yang telah dia ukir dihatiku. Ya. Memang aku bisa menerimanya. Tapi haruskah Chris membuka luka lama itu?
Lebih sakit lagi ketika aku tahu bahwa hubungan Chris dan Gracia belum berakhir. Mereka masih jadian. Sepesat itukah perubahan Chris setelah putus denganku? Seperti itukah lelaki yang dikatakan ‘playboy’? Aku tidak percaya tapi mungkin aku harus percaya. Hatiku terpukul. Aku mendiamkan SMS Lena beberapa saat sebelum kemudian aku siap membalasnya.
Len, klo lo chatting lg sma Chris, tolong lo blg sama dia!
Gue ga bkl prnah nerima cintanya lagi. Gue ga bkal prnah nyakitin siapapun.
Mskpun itu Gracia cwe yg sbnrnya bkin hti gue skit dulu. Blg itu ke Chris.
Dan tmbahin, jgn prnah nyoba nyakitin Gracia sprt dia nyakitin gue dulu.
Jujur, aku mengetik SMS itu dengan berat. Aku tidak pernah ingin mengeluarkan kata-kata yang menurutku kasar untuk Chris. Tapi mengetahui Chris seperti itu, aku sungguh tidak akan pernah bisa menahan amarahku. Karena bukan hanya Gracia yang tersakiti. Tapi aku! Aku juga tersakiti karena merasa dibodohi. Mungkin, bisa saja aku menerima cinta Chris jika aku tidak tahu dia masih ada hubungan dengan Gracia. Aku tidak percaya ini.
Getaran SMS kembali terasa didekat kakiku. Aku segera menyeret telepon genggamku kemudian membaca pengirimnya. Jason.
Deary? R u still awake? Udh bobo ya?
Ya udah. Nice dream, ya, Deb.
Luv u :*
Membaca kata-kata romantis Jason, hatiku mulai sedikit terobati. Jason mampu mengobati luka apapun dihatiku. Mampu membuatku tertawa. Mampu membuatku melewati hari-hari beratku. Aku segera membalas SMS-nya agar masih bisa melanjutkan percakapan dengannya. Aku masih ingin bicara dengan Jason. Setidaknya sampai badai dihatiku reda.
Hey, Jase! No! I’m not sleepy.
Td cuma ambl mnum aja kbawah. Maaf ya bnyk smsnya g dbales.
Jase udh mo bobo? Ya udah. Bye.
See u, luv u :*
Ada kata ‘see you’ disana. Padahal aku masih sangat ingin mengobrol dengannya. Benar saja! Jason langsung membalas SMS-ku. Tapi kali ini ada getaran lebih, menandakan ada dua pesan yang masuk. Segera aku membuka INBOX. Perutku mulai melintir dan badai yang baru saja reda segera bergemuruh lagi dihatiku. Dua pesan itu dari: ‘Jason’ dan ‘Chris’.
Aku tidak tahu harus membalas SMS siapa dulu. Tapi kemudian aku membaca SMS Jason dulu.
Syukur deh. Ada hal pnting yg pngen aku tnya ke kamu.
Plis dibls ya
Aku kemudian membalas, ‘apa?’ kepada Jason dan segera mengalihkan ke SMS dari Chris. Ada beberapa kalimat panjang yang bisa aku tangkap pada awalnya. Namun kemudian aku mengerti.
Nite, Deb. Still awake?
I know this is too fast for u, but u still remember that we r brake, rait? Not end!
N maybe now I realize that I can’t feel this life without u.
I know, I know. I do have a big mistake to you.
But, won’t u forgive me? I really wanna be w/ u now!
U must know one thing, my love never pale for u.
I still love u. Would u be my girl… again?
I promise, I’ll not disappoint u anymore. Please…
Gemuruh dihatiku semakin menjadi-jadi. Angin mengombang-ambingkan perasaanku. Badai meruntuhkan segala perasaan yang aku rasakan selama ini. CHRIS BERUBAH! Chris tidak pernah to the point untuk hal-hal seperti ini. Chris selalu memberi waktu. Chris… Chris… Ini bukan Chris! Aku mengabaikan SMS dari Chris kemudian beralih ke SMS berikutnya yang baru saja masuk. Dari Jason.
I know this is too fast for u, but…
Will u be my girl, dear Debora?
I promise I’ll not disappoint u and I’ll always be right there for u J
Aku melirik jam. 11:57.
Segera aku kembali ke SMS Chris. Membaca SMS itu kembali dengan cepat kemudian menekan REPLY. Dan mengetik,
Sorry, Chris. But I’ve found my love.
And… that’s not u J
Aku segera menekan tombol SEND. Menunggu beberapa detik kemudian hingga jarum panjang menuju arah detik ke lima puluh delapan sebelum jam dua belas malam untuk membalas SMS dari Chris.
Ga ada salahnya buat nyoba, kan?
Yes, Jasie! I wanna be ur girl!
Tepat pada pukul 11:59 balasanku terkirim.
Yeah! Thankies my deary Debora.
Jadi, kita resmi skrg? Love u :*
Aku membalas:
Iya, kita resmi skrg J love u :*
TENG! PUKUL 00:00. Kalimat “Iya, kita resmi skrg” menjadi bukti sah hubunganku dengan Jason. Aku percaya Jason bisa mencintaiku sepenuh hatinya.
Malam itu, aku tidur dengan senyum menghias wajahku. Mengingat nanti disekolah akan menjadi hari yang indah. Nanti disekolah akan menjadi hari yang mengejutkan untuk Lena, Felice, dan Bian. Mengingat kemarin adalah hari terburuk untukku, sementara hari ini adalah hari terindah untukku. Hari ini, hari pengikatku dengan Jason.
--Fin--
updated at facebook: December 10th, 2010 (besoknya ultah gue tuh) hehe.
***
“Gue nggak yakin kalo gue bisa pertahanin hubungan gue sama Chris kali ini. Gue nggak bisa.” kataku menyerah.
“Deb, masa lo kalah sama jarak sih? Lo coba dong SMS dia. Atau telfon dia. Kali aja dia lagi sibuk trus lagi nggak sempat ngontak lo.” Felice berusaha memberikan solusi terbaik untukku.
“Makanya itu, Fel. Gue takut dia lagi sibuk, trus pas gue SMS malah ganggu dia. Lo tahu dong gimana gedenya perannya dia disekolahnya. Apalagi ekskulnya. Lesnya. Kegiatan-kegiatan remeh lain yang dilakuin cowok idola kayak dia. Secara gitu. Chris! Cowok paling keren se-SMP Budi Pekerti.”
“Ya udah kalo emang gitu keputusan lo. Gue nggak bisa ngomong lagi, Deb. Gue cuma berharap hubungan lo sama Chris nggak berakhir sampe disini. Gue masih pengen liat kalian bareng-bareng. Dan gue nggak mau dengar kata PUTUS dari mulut lo. Inget itu, Debora.” kata Felice kepadaku sebelum akhirnya dia meninggalkan kantin.
Itu pembicaraanku dengan Felice lima setengah bulan yang lalu. Sebelum akhirnya…
Hello, dear Debora. Long time no talk. I really miss u.
Actually, I have somethin’ to tell to u. It’s gonna be hard for me. And maybe for u.
But, I think, this is the best for us.
I think, we need to have some break. Long-distance relationship is really hard for me.
I do love you, but I won’t you be hurt. Once, this is the best for both of us.
We’re still friends, rait? Best friends.
I’ll really need your reply. Reply as soon as u can. J
Chris.
Itu pesan dari Chris yang dia kirim melalui message di Facebook-ku. Padahal, tepat saat itu, aku juga sedang menyusun kata-kata untuk mengakhiri hubungan kami. Tapi, apa boleh buat? Chris menduluiku. Sebenarnya dari awal message itu, aku sudah bisa menduga. Dan tebakanku tepat. Disaat itu pula, aku menyadari, air mataku turun membasahi pipiku. Mendapati aku yang masih belum bisa merelakan perpisahan ini.
Keesokan harinya setelah keputusan Chris, disekolah…
“What the hell! Gila banget tuh cowok. Jangan mentang-mentang dia beken trus bisa seenaknya mutusin lo ya, Deb. Gue nggak terima. As your best friend, gue nggak terima.” Felice yang mengidap ‘darah tinggi dadakan’ langsung meledak ketika mendengar ceritaku bahwa Chris memutuskanku.
“Udah dong, Fel. Gue juga udah nggak tahan sama hubungan gue sama dia. Gue udah cukup kesiksa, Fel.” jawabku pasrah.
“Nggak bisa gitu juga kali, Deb. Lo udah sabar sama hubungan lo ini, eh dia malah mutusin lo secara online gitu. Mana jantannya Chris itu? Mana? Basi tau nggak dia! Nyesel deh gue setuju sama hubungan lo berdua.” Lena juga menambahi ketidaksetujuan Felice.
“Iya, Deb. Dia nggak bisa seenaknya gitu. Rasanya pengen gue labrak aja dia.” Bian juga saat itu tidak bisa menahan amarahnya.
“Felice, Bian, Lena, please yah. Gue paling nggak mau sama yang kayak gini. Kalian itu sahabat gue. Udah seharusnya kalian ngertiin gue. Tapi apa? Lo semua malah bikin keadaan tambah runyam. Lo semua malah ngamuk-ngamuk nggak jelas gini. Ini juga bukan sepenuhnya salah Chris, girls. Gue juga salah. Kenapa gue nggak ngontak dia dari lalu-lalu, coba? Udah deh. Stop blaming Chris. Kalo kalian mau main salah-salahan, oke. Salahin aja gue yang udah ada didepan mata lo. Gampang, kan?” aku terpancing emosi karena ketiga sahabatku yang tidak pernah berhenti mengomel.
“Ya udah lah, Deb. It’s okay kalo emang lo bisa terima semua ini. Tapi lo inget satu hal. Gue, Bian sama Felice ada disini kapanpun lo butuh. Kita semua siap dengerin curhatan lo tentang siapapun, tentang apapun itu. Lo denger, Deb?” kata Lena akhirnya.
“Iya, Len. Thanks udah ngertiin gue.” kataku sambil kemudian memeluk Lena.
“Kita nggak dipeluk nih, Deb?” tanya Bian sirik.
“Ayok deh!” kataku sambil kemudian memeluk ketiga sahabat terbaikku. Mereka selalu bawel, tapi selalu ada buat aku. Kapanpun dan apapun itu.
“Eits,” Felice kemudian melepaskan pelukannya. “Inget ya. Marah gue ke Chris belum ilang. Gue tetep marah sama dia. Kalopun gue ketemu dia, gue nggak bakal ngomong bahkan ngelirik sekalipun. Denger itu, Deb.” kata Felice mengancam.
“Terserah lo lah, Fel.” kataku kemudian menyunggingkan senyum kepada ketiga temanku.
Saat itu, aku sedih. Aku sakit hati karena harus berpisah dengan cinta pertamaku. Tapi saat itu juga, aku menyadari arti cinta yang diberikan Chris. Chris udah memberikan banyak hal buat aku. Chris udah mengajarkan banyak hal baru yang aku belum tahu. Chris mengukir senyum dihati dan wajahku, tapi Chris juga menorehkan kepedihan untukku. Setidaknya, itu yang aku dapatkan selama bersama Chris. Pengalaman yang indah, yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Masa-masa pacaran pertamaku. Bersama Chris.
***
Mengingat kejadian beberapa bulan lalu, membuat aku senyam-senyum sendiri. Aku bahkan masih ingat bagaimana wajah marah teman-temanku ketika mendengar Chris memutuskanku. Tapi aku juga masih ingat, bagaimana perasaanku ketika mengakhiri hubungan dengan Chris yang bahkan tidak berjalan selama setahun.
Tepat hari ini, anniversary hubungaku dengan Chris. Apa mungkin Chris juga sedang mengingat-ingat memori masa-masa indah kami? Sepertinya mustahil bagi Chris. Saat ini, ketika Gracia menggantikan posisiku sehari hari setelah hubunganku dengan Chris berakhir.
***
Aku ingat saat itu sedang hujan. Sore hari yang seharusnya diterangi mentari sore yang bersinar cerah malah diganti derasnya hujan, kilatan petir, dan deruan guntur. Aku dan Bian sedang dalam perjalanan pulang kerumah dari rumah Lena. Sambil menunggu taksi, kami mencari tempat berteduh paling aman. Akhirnya kami mendapatkan tempat disebelah sebuah restoran cepat saji. Selang beberapa menit menunggu taksi kosong, beberapa orang yang seumuran aku dan Lena masuk kerestoran cepat saji tersebut. Aku bisa menangkap salah satu wajah dari beberapa anak itu. Itu Chris!
Chris dan teman-temannya masuk kedalam restoran cepat saji itu. Pemandangan lain yang pastinya akan menarik perhatian semua orang yang menyaksikannya adalah, Chris menggandeng tangan seorang gadis. Aku tahu siapa gadis itu. Meskipun aku tidak kenal dengannya, aku cukup tahu beberapa teman-teman sekelas Chris dan beberapa yang dekat dengan Chris atau beberapa gadis yang menyukai Chris. Itu Gracia!
Aliran darah dalam pembuluh darahku seakan terhenti. Terhenti untuk sesaat sebelum akhirnya Chris dan Gracia masuk kedalam restoran cepat saji itu. Aku tidak bisa bertumpu pada kedua kakiku lagi. Tubuhku oleng. Aku mencari seseorang untuk menahan diriku, yang akhirnya aku mendapatkan tangan Bian dan segera menggenggam tangan Bian. Ternyata Bian melihat hal itu juga. Mata Bian langsung terarah padaku. Segera setelah itu, Bian memanggilkan taksi.
Sungguh. Saat itu bisa-bisanya aku berpikir positif tentang Chris. Menduga tidak ada apa-apa diantara Chris dan Gracia setelah banyak pembuktian dari Felice, Lena, dan Bian bahwa mereka memang pacaran. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat sore itu, sebelum aku mendapatkan faktanya dari Chris sendiri.
Malamnya, setelah aku melihat Gracia dan Chris, dengan berani aku mengirim SMS kepada Chris yang dibalasnya semenit kemudian.
Hmm… Ia, Deb. Gue sama Chia sekarang.
Sorry yah telat ngasih tau. Pasti lo penasaran bgt ya?
Tapi swear, gue lupa Deb. Tp tenang aja deh.
Gue psti bkal ngasih tau lo selanjutnya ttg hubungan gue sama Chia.
Gue harap pnjelasan gue ini memberikan jwbn buat prtanyaan lo tdi.
Oke? Once, sorry yah lupa ngasih tau. J
Entah sengaja atau tidak, tapi kelihatannya Chris sengaja memamer-mamerkan hubungannya dengan Gracia. Sesuatu seperti menyobek hatiku. Aku langsung menonaktifkan telepon genggamku kemudian menyembunyikannya dibawah bantal. Saat itulah aku berjanji pada diriku sendiri untuk melupakan perasaan sayang yang masih tertanam dihati ini untuk Chris.
Aku yang sudah mulai menerima ini semua ternyata berbanding terbalik dengan sahabat-sahabatku. Mereka malah semakin meledak. Lebih meledak dari ketika mereka mendengar Chris memutuskanku.
***
Kemudian aku menyesali karena harus mengingat kejadian itu lagi. Bagian dari hubunganku yang paling ingin aku hapuskan adalah itu. Disaat Chris kemudian jadian dengan Gracia. Mendengar hal itu memang mungkin wajar. Tapi, apakah wajar ketika Chris dan Gracia resmi pacaran sehari setelah Chris memutuskanku? Dan yang lebih tidak masuk akalnya lagi, kenapa secepat itu? Menurut penelaan sahabat-sahabatku, Chris dang Gracia mungkin memang sudah saling lirik dari sebelum aku dan Chris putus. Dan sikap diam Chris dengan cara tidak mengirimiku kabar, adalah salah satu trik Chris untuk memudahkan jalannya untuk putus dariku. Perlahan, aku mulai percaya dengan penelaan singkat dari sahabat-sahabatku. Percaya.
Hush! Udah dong, Deb. Nggak usah nginget-nginget hal itu lagi. Nggak bagus lo bersedih gini disaat ada seseorang yang sebenarnya bisa bikin lo tersenyum bahagia, kataku membatin yang kemudian disusul oleh getar SMS masuk di telepon genggamku.
Hey, dear Debbie! Sorry late to rep.
Still awake? Hv u takes a dinner? :*
Jason. Dia. Dia teman SD-ku dulu. Dia yang sekarang mengisi hari-hariku belakangan ini. Ketika aku menjalin kontak kembali dengannya di Facebook, Jason meminta nomorku. Aku dan dia jadi sering SMS-an atau telponan. Dan bahkan Jason sendiri yang bilang ingin mengenalku lebih jauh daripada yang dia tahu di SD. Dia menyebutnya, “PDKT”. Hmm… Terlalu kuno bagiku. Tapi tidak. Ia membuat kata itu indah dan berarti. Tiba-tiba saja aku mendapati diriku yang mulai menyukai Jason.
Dengan segera aku membalas SMS Jason dengan wajah sumringah. Aku menatap jam di dinding. Pukul 11:24. Sedikit lagi hari ini berakhir. Begitupun dengan kisahku dengan Chris. Itu semua sudah berakhir. Berakhir sejak lama. Aku sebenarnya masih menjalin hubungan baik dengan Chris. Namun tidak sedekat dulu. Rasa deg-degan ketika mendapat SMS masuk darinya tidak seperti dulu lagi. Chris hanya temanku sekarang. Bukan siapa-siapa lagi. Ya, mungkin mantan pacarku. Mantan pacar yang akan sangat membekas. Tidak akan pernah kulupakan.
Dzzt… Dzzt… Getaran telepon genggamku menandakan ada SMS yang masuk. Aku mengira itu Jason. Ternyata bukan. Itu dari Lena. Aku kembali menatap jam dinding yang berada diatas wardrobe krem ku. 11:26. Ada apa Lena tengah malam begini SMS?
Deb, lo nggak bakal percaya apa yg Chris blg ke gue.
Emergency bgt, Deb. Gue mohon bls scepat yg lo bisa. J
Emergency? Segera aku menekan tombol REPLY, kemudian bertanya ‘kenapa emangnya’?
Getaran berikutnya muncul dari telepon genggamku. Dari Lena!, tebakku dalam hati. Bukan. Itu dari Jason. Dengan senang hati aku membalas SMS dari Jason. Sekitar tiga SMS dari Jason baru kemudian SMS dari Lena masuk.
Serentetan kata-kata terpampang dilayar monitor telepon genggamku. Menandakan penjelasan panjang dari Lena. Peganganku mengendur. Sungguh gila! Aku tidak percaya ini. Chris? Oh! Chris bertanya pada Lena, apa mungkin aku akan menerima cintanya lagi jika Chris mencoba untuk menyatakan cintanya sekali lagi. Gila! Nggak mungkinlah! Begitu mudahnya Chris bertanya seperti itu setelah luka yang telah dia ukir dihatiku. Ya. Memang aku bisa menerimanya. Tapi haruskah Chris membuka luka lama itu?
Lebih sakit lagi ketika aku tahu bahwa hubungan Chris dan Gracia belum berakhir. Mereka masih jadian. Sepesat itukah perubahan Chris setelah putus denganku? Seperti itukah lelaki yang dikatakan ‘playboy’? Aku tidak percaya tapi mungkin aku harus percaya. Hatiku terpukul. Aku mendiamkan SMS Lena beberapa saat sebelum kemudian aku siap membalasnya.
Len, klo lo chatting lg sma Chris, tolong lo blg sama dia!
Gue ga bkl prnah nerima cintanya lagi. Gue ga bkal prnah nyakitin siapapun.
Mskpun itu Gracia cwe yg sbnrnya bkin hti gue skit dulu. Blg itu ke Chris.
Dan tmbahin, jgn prnah nyoba nyakitin Gracia sprt dia nyakitin gue dulu.
Jujur, aku mengetik SMS itu dengan berat. Aku tidak pernah ingin mengeluarkan kata-kata yang menurutku kasar untuk Chris. Tapi mengetahui Chris seperti itu, aku sungguh tidak akan pernah bisa menahan amarahku. Karena bukan hanya Gracia yang tersakiti. Tapi aku! Aku juga tersakiti karena merasa dibodohi. Mungkin, bisa saja aku menerima cinta Chris jika aku tidak tahu dia masih ada hubungan dengan Gracia. Aku tidak percaya ini.
Getaran SMS kembali terasa didekat kakiku. Aku segera menyeret telepon genggamku kemudian membaca pengirimnya. Jason.
Deary? R u still awake? Udh bobo ya?
Ya udah. Nice dream, ya, Deb.
Luv u :*
Membaca kata-kata romantis Jason, hatiku mulai sedikit terobati. Jason mampu mengobati luka apapun dihatiku. Mampu membuatku tertawa. Mampu membuatku melewati hari-hari beratku. Aku segera membalas SMS-nya agar masih bisa melanjutkan percakapan dengannya. Aku masih ingin bicara dengan Jason. Setidaknya sampai badai dihatiku reda.
Hey, Jase! No! I’m not sleepy.
Td cuma ambl mnum aja kbawah. Maaf ya bnyk smsnya g dbales.
Jase udh mo bobo? Ya udah. Bye.
See u, luv u :*
Ada kata ‘see you’ disana. Padahal aku masih sangat ingin mengobrol dengannya. Benar saja! Jason langsung membalas SMS-ku. Tapi kali ini ada getaran lebih, menandakan ada dua pesan yang masuk. Segera aku membuka INBOX. Perutku mulai melintir dan badai yang baru saja reda segera bergemuruh lagi dihatiku. Dua pesan itu dari: ‘Jason’ dan ‘Chris’.
Aku tidak tahu harus membalas SMS siapa dulu. Tapi kemudian aku membaca SMS Jason dulu.
Syukur deh. Ada hal pnting yg pngen aku tnya ke kamu.
Plis dibls ya
Aku kemudian membalas, ‘apa?’ kepada Jason dan segera mengalihkan ke SMS dari Chris. Ada beberapa kalimat panjang yang bisa aku tangkap pada awalnya. Namun kemudian aku mengerti.
Nite, Deb. Still awake?
I know this is too fast for u, but u still remember that we r brake, rait? Not end!
N maybe now I realize that I can’t feel this life without u.
I know, I know. I do have a big mistake to you.
But, won’t u forgive me? I really wanna be w/ u now!
U must know one thing, my love never pale for u.
I still love u. Would u be my girl… again?
I promise, I’ll not disappoint u anymore. Please…
Gemuruh dihatiku semakin menjadi-jadi. Angin mengombang-ambingkan perasaanku. Badai meruntuhkan segala perasaan yang aku rasakan selama ini. CHRIS BERUBAH! Chris tidak pernah to the point untuk hal-hal seperti ini. Chris selalu memberi waktu. Chris… Chris… Ini bukan Chris! Aku mengabaikan SMS dari Chris kemudian beralih ke SMS berikutnya yang baru saja masuk. Dari Jason.
I know this is too fast for u, but…
Will u be my girl, dear Debora?
I promise I’ll not disappoint u and I’ll always be right there for u J
Aku melirik jam. 11:57.
Segera aku kembali ke SMS Chris. Membaca SMS itu kembali dengan cepat kemudian menekan REPLY. Dan mengetik,
Sorry, Chris. But I’ve found my love.
And… that’s not u J
Aku segera menekan tombol SEND. Menunggu beberapa detik kemudian hingga jarum panjang menuju arah detik ke lima puluh delapan sebelum jam dua belas malam untuk membalas SMS dari Chris.
Ga ada salahnya buat nyoba, kan?
Yes, Jasie! I wanna be ur girl!
Tepat pada pukul 11:59 balasanku terkirim.
Yeah! Thankies my deary Debora.
Jadi, kita resmi skrg? Love u :*
Aku membalas:
Iya, kita resmi skrg J love u :*
TENG! PUKUL 00:00. Kalimat “Iya, kita resmi skrg” menjadi bukti sah hubunganku dengan Jason. Aku percaya Jason bisa mencintaiku sepenuh hatinya.
Malam itu, aku tidur dengan senyum menghias wajahku. Mengingat nanti disekolah akan menjadi hari yang indah. Nanti disekolah akan menjadi hari yang mengejutkan untuk Lena, Felice, dan Bian. Mengingat kemarin adalah hari terburuk untukku, sementara hari ini adalah hari terindah untukku. Hari ini, hari pengikatku dengan Jason.
--Fin--
updated at facebook: December 10th, 2010 (besoknya ultah gue tuh) hehe.
bagus cerpennya :)
BalasHapusmakasihhhh :)
Hapus