11/27/2012
Naif?
Aku sedang berjalan ketika dia menghadang jalanku. Lagi. Aku tak ingin menengok, tak ingin menatap mata itu. Sebisa mungkin aku bertahan pada pendirianku untuk terus melangkah pergi. Tapi dia kembali membawa mentari dan menunjukkan secercah asa yang membuatku mau tidak mau sedikit goyah dari pertahananku. Namun aku menggeleng kepalaku keras. Aku terlalu naif. Bodoh? Bisa jadi. Tapi aku juga tidak bisa membohongi hatiku sendiri, bahwa aku masih selalu berharap bisa bersamanya. Tapi apalah arti sebuah harapan? Harapan pun tak ada pastinya. Aku harus terus berjalan. Meski aku masih bermimpi berada dalam pelukan hangat itu, dirangkul tangan kuat itu, menyamai langkah panjang itu, dan tertawa karena lelucon-lelucon itu, aku harus terus berjalan. Aku terlanjur jatuh, dan sakit rasanya untuk berdiri. Berat rasanya untuk membuka mata. Tapi aku harus terus berjalan. Bila aku pergi ke dunia seberang, apa aku bisa melihatnya lagi? Bila aku tidak bisa melihatnya lagi, apa aku akan mampu berdiri dan membuka mata? Bila aku telah hidup bahagia, apa dia akan kembali mengejarku? I know this is stupid, but yes, I hope so.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Comments