9/16/2012

Letting Go Those Beautiful 74 Days

Akhirnya kemauan buat nulis blog muncul juga setelah berabad-abad gue enggan cerita di sini. Entah kenapa, tapi yang lalu-lalu kayaknya gue berat banget buat nulis-nulis di blog. Setelah insyaf, baru gue sadar ternyata blog ini terakhir gue jamah 2 bulan yang lalu. Dan postingan terakhir gue berjudul #BukanPostinganGalau. Tapi setelah gue baca-baca lagi, itu postingan galau ternyata galau mampus -_-

Ngomong-ngomong soal galau, mungkin alasan kenapa gue males cerita di blog selama 2 bulan ini adalah karena bisa dibilang gue ngalamin 2 bulan tergalau dalam hidup gue. Tergalau. Bahasanya emang enggak banget sih ya-_- Tapi ya gitu deh.

Gue denger-denger, bang Alit Susanto (@shitlicious) putus sama pacarnya. Iya, gue tau ini berkat kepo-in TL si Arip @Poconggg. Mulai dari situ, gue buka timeline twitternya bang Alit dan bener aja. Gue nemuin beberapa tweet galau si doi beserta link menuju blognya yang ternyata terisi sebuah puisi galau berjudul Bukan Jarak Pembunuhnya, Tapi Kita lah Pelakunya.

Mungkin karena saat ini gue mengalami hal yang sama kayak Alit jadinya gue nangis baca puisi itu. Puisi itu mungkin nggak sebanding dengan karya-karya keren punya para pujangga. Tapi kalo lo baca puisi itu nggak cuma pake mata, tapi pake hati, puisi itu lebih dari indah. Lebih dari indah, karena gue tau Alit nulis puisi itu dengan hatinya. Mungkin Alit nulis puisi itu dengan airmata juga. Mungkin Alit nulis puisi itu dengan segudang penuh harapan. Siapa yang tahu pasti? Tapi gue ngerasain apa yang dia rasain. Makasih bang Alit, buat puisi terindah yang pernah gue baca.

Ada beberapa twit bang Alit yang ngena banget di gue. Salah satunya:
"Favorite song that we had with our ex, would be the worst song
to be heard later on."
Dan dia bener banget soal yang satu itu. Ada lagu yang gue suka banget, dan setau gue dia juga suka lagu itu. Payphone by Maroon 5. Kita pernah bikin lagu itu sebagai nada dering hp di saat yang bersamaan. Dan gue inget banget tanpa sadar dia nyanyiin lagu itu waktu nelpon gue. Itu lagu yang penuh kenangan. Saking penuh kenangannya, tiap kali playlist hp gue nge-play lagu itu, semua hal yang pernah kita alami sama-sama bakal muncul di kepala gue kayak film dokumenter. Dan hal yang paling bikin lagu itu jadi lagu yang terburuk buat didengerin sekarang adalah, tiap gue denger lagu itu, tiap kenangan-kenangan itu muncul lagi, saat itu gue tahu, gue kangen dia. Yang sampe sekarang nggak bisa gue omongin secara langsung.

2 bulan terakhir ini gue jadinya sering galau. Puncaknya adalah bulan Agustus kemaren. Sampe akhirnya gue disuruh buat stop galau di twitter. Tebak disuruh sama siapa? Sama orang yang gue galauin :) Kata dia, gue harus stop nulisin kata-kata yang bikin dia down. Awalnya gue pengen protes. Tapi gue nggak bakal sanggup nolak apa yang dia minta. "Weakness and love is pretty close, that's why I became so weak to him" -(@shitlicious). Dan ya, akhirnya gue nyanggupin permintaannya walau bakal berat buat gue. Gue mutusin buat diam mulai saat ini. Kalo gue diam bisa bikin dia bebas dan seneng, gue bakal diam. Apapun. Asal gue masih bisa liat dia ketawa.

Terima kasih banyak untuk banyak kenangan manis yang kamu berikan...
Maaf untuk emosi yang tidak dapat aku tahan...
Aku berpikir, jika aku tidak seegois itu, kisah kita tidak akan sesingkat itu...
Aku ingin kamu percaya, aku tidak pernah membencimu...
Aku tidak pernah ingin menjatuhkanmu...
Tapi aku bersyukur, bersyukur untuk tujuh puluh empat hari yang indah...

Bila kamu sudah memutuskan untuk meninggalkan semuanya sebagai cerita lama,
pergilah...
Kamu tidak tahu dan memang tidak perlu tahu...
Perasaan ini tidak berhenti ketika kamu menyanggupi permintaanku untuk berpisah...
Aku masih aku yang dulu...
Aku mendukungmu, meski nanti kamu akan memeluk gadis lain...
Aku berjalan bersamamu, meski tanganku takkan pernah bisa menggenggam tanganmu...
Aku masih merindukanmu, walau itu berarti aku harus terlelap dalam tangis...
Aku mencintaimu, meski kini tanpa harapan...
Doaku bersamamu...

1 komentar:

Comments